Kita bertemu lagi di
blog saya yang tidak sempurna ini. Hari ini saya mau membahas mengenai National Power (Kekuatan Nasional) dalam Hubungan Internasional. Pertama saya mau
bertanya, apakah arti dari National Power?
Dalam kajian studi Hubungan Internasional, terdapat keterkaitan erat antara tiga elemen penting, yaitu Actors, Interests, dan Power. Apabila salah satu dari elemen tersebut tidak terpenuhi, maka suatu hubungan internasional tidak akan pernah berlangsung. Power memiliki peranan dalam membantu aktor, karena power merupakan sebuah alat (tools) bagi aktor hubungan internasional untuk mencapai kepentingannya. Adanya power ini terlihat jelas pada akhir Perang Dunia II, saat Amerika Serikat dan Uni Soviet berusaha menyebarkan pahamnya dan berusaha mempengaruhi negara lain untuk memperoleh dukungan. Power ini terjadi saat suatu negara berhasil mempengaruhi negara lain untuk melakukan apa yang negara tadi inginkan. National power merupakan hasil pemikiran berdasarkan kajian empiris antar negara yang digunakan untuk mengadakan suatu hubungan internasional berupa kerjasama atau konflik. Jadi, secara garis besar national power adalah kekuatan atau kekuasaan suatu negara untuk mengendalikan atau mempengaruhi negara lain.
Modal dasar dalam sebuah hubungan adalah kekuatan. Menurut pandangan
tradisional, kekuatan suatu negara dilihat melalui kekuatan mereka
saat berperang melawan negara lain. Suatu negara baru dikatakan memiliki great
power apabila negara tersebut berhasil menyerang dan menguasai negara lain
menggunakan kekuatan militernya. Namun di era modern ini, faktor-faktor seperti
teknologi, ilmu pengetahuan, dan perkembangan ekonomi, menjadi indikator power
suatu negara.
Conway W. Henderson (1998) membagi national power menjadi dua
tipe, yaitu hard power dan soft power. Namun seiring dengan
perkembangannya, muncul power tipe ketiga yang merupakan gabungan
antara hard power dan soft power, yaitu smart power.
Tiga tipe ini dibedakan menurut bagaimana cara suatu negara mempengaruhi negara
lain. Tipe pertama yaitu hard power, yang cenderung melakukan paksaan.
Hard power adalah tindakan suatu negara dengan menggunakan ancaman
atau kekuatannya (militer ataupun ekonomi) terhadap negara lain untuk
mendapatkan apa yang diinginkan. Contohnya melakukan embargo terhadap negara
lain. Tipe kekuatan ini seringkali digunakan oleh negara yang agresif dan
memiliki kekuatan militer dan ekonomi.
Pada soft power, aktor-aktor hubungan internasional
menggunakan cara-cara non-military untuk mencapai kepentingannya. Soft
power adalah sebuah kemampuan untuk mengatur agenda politik yang dapat
membentuk suatu simbol keterkaitan yang memberikan keuntungan bagi semua pihak.
Pengaplikasian soft power ini dapat berasal dari jalur diplomasi, ekonomi,
budaya, ideologi, dan lain-lain. “If a state culture and ideology are
attractive, others will more willingly follow”. Soft power ini
sering digunakan oleh berbagai negara di dunia untuk menghindari terjadinya
konflik militer dengan negara lain. Kelemahan hard power yang
menjadikan ancaman sebagai unsur utama, dan soft power yang sering
diragukan karena tidak adanya unsur paksaan, memunculkan solusi yang merupakan
gabungan dari hard power dan soft power, yang disebut smart
power. Dalam tipe ini, aktor menggunakan strategi untuk mempengaruhi
negara lain. Smart power mengindikasikan seorang aktor yang pandai,
mengerti kapan menggunakan jalur diplomasi, dan kapan menggunakan unsur
paksaan.
Itulah pengertian dari National Power, dan saya juga menambah tipe –
tipe dari Power yaitu hard power, soft power dan ditambah yang terbaru adalah
smart power. Saya akan memberikan contoh suatu Negara yang memiliki power
(menurut opini saya). Negara tersebut adalah Republic of South Korea atau Korea
Selatan.
Korea Selatan merupakan salah satu
negara republik dengan ekonomi tersukses di Asia. Korea Selatan terletak di
bagian selatan Semenanjung Korea yang berbatasan langsung dengan Korea Utara,
Laut Jepang, dan Laut Kuning. Bagian timur Korea Selatan merupakan pegunungan,
sementara bagian barat dan selatan ada banyak pelabuhan di daratan dan lepas
pantai. Korea Selatan memiliki penduduk yang homogeny, kecuali ribuan orang
China yang tinggal disana dengan jumlah penduduk 49.039.986 jiwa. Berdasarkan
survey tahun 2010, penduduk Korea Selatan menganut agama Kristen 31,6%, Buddha
24,2%, dan lainnya 44,2% (Central Intelligence Agency, t.t.). Korea tradisional
mendapatkan pengaruh budaya dari China, termasuk karakter tulisan bahasa Korea
dan mengadopsi neo-konfusianisme sebagai filosofi dalam pemerintahan (Asia
Society, t.t.).
Selama lebih dari empat dekade
terakhir, Korea Selatan muncul sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang
signifikan dengan ekonomi industri dengan teknologi yang tinggi. Pada 1960an,
GDP per kapita pada level yang sama dengan negara-negara di Afrika dan Asia.
Namun dewasa ini Korea Selatan mampu memajukan ekonominya dan menjadi negara
dengan perekonomian tersukses ke-12 di dunia. Kemajuan perekonomian Korea
Selatan disebabkan oleh faktor sistem pemerintah dan bisnis, termasuk kredit
langsung dan restriksi impor. Pemerintah hanya meningkatkan impor terhadap
bahan mentah dan teknologi daripada barang-barang konsumsi, serta menggalakkan
tabungan dan investasi daripada konsumsi. Saat terjadi krisis finansial yang
parah di Asia pada tahun 1997-1998, Korea Selatan mengadopsi beberapa bentuk
reformasi ekonomi, termasuk menjadi lebih terbuka terhadap investasi asing dan
impor dari negara lain. Setelah itu Korea Selatan mengalami pertumbuhan ekonomi
sekitar 4% per tahun antara tahun 2004 hingga 2007, bahkan pada 2010 Korea
Selatan berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 10%. Namun seiring dengan
pertubuhan ekonomi, ada permasalahan yang tengah dihadapi Korea Selatan,
seperti pertumbuhan penduduk yang cepat, pasar tenaga kerja yang tidak
fleksibel, serta ketergantungan terhadap ekspor yang notabene menyumbang
sekitar setengah dari total GDP (Central Intelligence Agency, t.t.). Selain
faktor kebijakan dan strategi pemerintah, transformasi yang terjadi di Korea
Selatan juga dipengaruhi oleh karakteristik, seperti implementasi model ekonomi
berbasis perdagangan bebas, perkembangan struktur ekonomi berbasis jaringan
bisnis (chaebols), dan cepatnya penciptaan kapasitas teknologi. Selain
itu, adanya pengaruh budaya baik di pemerintah maupun masyarakat yang memiliki
peran penting dalam kemajuan Korea Selatan, yakni Konfusianisme.
Selama berabad-abad, Konfusianisme
telah menjadi pedoman rakyat Korea Selatan yang penting dalam menjalani
kehidupan sehari-hari. Konsep Konfusianisme adalah harmoni sosial dan
ajaran-ajaran moral diserap dalam kehidupan rakyat Korea Selatan dan memiliki
peran yang sangat penting dalam mencetak budaya Korea seperti yang terlihat
saat ini. Konfusianisme telah mengakar dalam tingkah laku, kebiasaan, hingga
pola pikir rakyat Korea Selatan. Ide-ide fundamental tentang moralitas dan
hubungan manusia seringkali diasosiasikan dengan konsep konfusianisme. Di
Korea, orang-orang tua sangat dihargai, bahkan perbedaan usia diakui. Meskipun
memiliki catatan buruk tentang korupsi dan mismanajemen yang sangat parah dalam
pemerintah Korea Selatan selama beberapa dekade, namun Korea Selatan mampu
memperbaiki dan bangkit kembali (Asia-Pasific Connection, 2008).
Konfusianisme menjadi faktor penting
dalam kemajuan perekonomian di Korea Selatan. Di Korea Selatan tejadi asimilasi
ajaran Protestanisme dan nilai kapitalisme dengan budaya Konfusianisme yang
tegas dan berorientasi pada tujuan, dimana dalam proses asimilasi Konfusianisme
sebagai faktor positif yang mengajarkan hierarki, masyarakat harmonis dan
berorientasi komunitas. Masuknya Protestanisme di Korea Selatan pada 1884 telah
memodifikasi nilai-nilai Konfusianisme tradisional dengan pendidikan modern,
dan visi masyarakat Barat dan nilai-nilai Protestan. Tu Wei-ming (1984, dalam
Ramirez 2010) mengatakan bahwa modifikasi ini dilakukan untuk membentuk
neo-konfusianisme yang berotientasi pada tujuan, gagasan hierarki yang
menempatkan para intelektual dan pegawai publik pada puncak hierarki, kemudian
di bawahnya ada petani, artisan, dan terakhir pedagang.
Selain itu, Weber (1989, dalam
Ramirez 2010) mengatakan bahwa prinsip-prinsip Protestan mengajarkan
individualisme, bekerja untuk mengejar kekayaan, standar moral, dan kewajiban
religius untuk tiap-tiap individu. Kontras dengan Protestanisme,
prinsip-prinsip Konfusianisme menawarkan panduan moral untuk kebaikan
masyarakat, agar bisa mencapai masyarakat yang harmonis secara moral,
kedisiplinan, edukasi, ikatan keluarga, dan harmoni sosial yang kuat. Pembauran
inilah yang menciptakan neo-konfusianisme yang membawa perkembangan dan
kemajuan pesat di Korea Selatan dan membuat Korea Selatan menjadi sangat
Konfusian daripada negara-negara Asia Timur lainnya. Misalnya yang terjadi di
Jepang, dimana dalam etos kerja dan sistem pekerjaan di Jepang sama sekali
tidak terpengaruh oleh nilai Konfusianisme, melainkan sistem pekerjaan lah yang
menggambarkan Konfusianisme. Kooperasi, konsensus, dan solidaritas sosial juga
menjadikan dinamika organisasi di perusahaan Korea Selatan berbeda dengan
Jepang, dimana kolektivisme di Jepang tidak sekuat di Korea Selatan, hal ini
pula yang membedakan dengan individualisme dan kompetisi di Barat. Selain itu,
menurut Kim (1997, dalam Ramirez 2010), pembelajaran Konfusian di Korea Selatan
jauh lebih merata daripada di negara-negara Asia Timur lainnya.
Konfusianisme memiliki enam arts
of governance: pembetulan, Chung Yung atau Doctrine of the Mean, memerintah
dengan kebajikan, instruksi publik, mengembangkan kekayaan nasional, dan
pertumbangan opini publik. Pembetulan menjadi panduan moral bagi masyarakat
yang berisi norma-norma yang menentukan benar dan salah, atau yang disebut
dengan standar. Standar inilah yang digunakan untuk mencapai tujuan kolektif
sebagai cara untuk kontrol sosial (Hsu 1975, dalam Ramirez 2010). Berdasarkan
ajaran Konfusianisme, faktor yang paling penting dalam konsolidasi negara
adalah kesatuan politik untuk memproteksi negara dari ancaman eksternal dan
untuk memerintah melalui cara yang efisien dan efektif. Konfusianisme menganggap
negara terkonsolidasi ketika negara mencapai sentralisasi otoritas politik yang
dipahami sebagai “kekuatan negara” (Hsu 1975, dalam Ramirez 2010). Sehingga
jelas bahwa Korea Selatan sebagai contoh dimana kantor pusat pemerintahan
mengawasi semua kantor pemerintahan yang berurusan dengan masalah-masalah
nasional. Konfusianisme Korea Selatan juga tidak mengenal pemisahan kekuasaan
yang menjadi hal esensial dari nilai kapitalis Barat, melainkan struktur
pemerintah Konfusian berdasarkan hierarkhi dimana fungsionaris ditempatkan pada
otoritas yang lebih tinggi. Bangsa konfusian juga mendukung pemerintahan rakyat
untuk rakyat, namun tidak oleh rakyat. Konfusianisme mengenal adanya pola-pola
hirarkis dan birokratis, dimana pemerintah lebih kuat daripada masyarakat
sipil. Hal inilah yang membedakan Konfusianisme dengan kapitalisme.
Bagaimanapun Korea Selatan mengasimilasikan nilai kapitalisme yang telihat dari
pola perekonomiannya yang berbasis perdagangan bebas.
Selain maju dalam bidang ekonomi,
Korea Selatan juga fokus memajukan negara sebagai negara demokrasi. Selama era
Park, terjadi transisi demokratis pada 1987 karena keseimbangan kekuatan antara
pemegang bisnis dan politisi membuat korupsi terjadi dan tidak terkendali,
sehingga transisi demokrasi mengubah hubungan dasar bisnis dan negara, yang
sebelumnya bisnis memiliki pengaruh yang lebih besar dalam keputusan kebijakan.
Terlalu fokus pada pilihan kebijakan individual, seperti industrialisasi
berorientasi ekspor atau peraturan institusional yang spesifik (birokrasi)
sebagai isu yang dipisahkan juga tidak relevan. Baik institusi maupun kebijakan
adalah variabel penghalang, dimana hubungan pemerintah-bisnis mempengaruhi
berbagai isu. Institusi tidak hanya sekedar organisasi negara, melainkan
ditempatkan sebagai pengambil kebijakan perdagangan dan finansial (Kang 2002,
178).
Periode transisi Korea Selatan juga
tidak terlepaskan dari terbunuhnya Park yang memerintah negara selama 18 tahun.
Peristiwa itu seringkali disebut dengan “Seoul Spring” yang membawa pada keterbukaan
politik dan atmosfer politik yang lebih bebas dan pemerintah yang lebih
mewakili rakyat (Seth 2011, 412). Kemudian pada tahun 1987 ada pemilihan
presiden secara bebas, dimana persaingan para calon presiden, Kim Young Sam dan
Kim Dae Jung, membagi oposisi, yakni dari militer dan pekerja konservatif serta
rakyat kelas menengah. Namun, peristiwa ini menjadi turning point dalam
sejarah Korea Selatan. Terjadi pergeseran politik dari rezim otoritarian
menjadi sistem politik yang lebih terbuka. Pengalaman tahun 1960-1961 ketika
demokrasi diasosiasikan dengan kekacauan sosial telah hilang, kemudian muncul
keinginan untuk mengakhiri rezim yang didominasi oleh militer selama hampir
tiga dekade (Seth 2011, 442).
Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi demokratisasi di Korea Selatan. Pertama, adanya perubahan sosial
dan kultural masyarakat Korea Selatan, termasuk evolusi demokrasi yakni
penyebaran idealisme kesetaraan dan meningkatnya mobilitas sosial. Kedua,
kontribusi dan pengaruh Amerika Serikat. Budaya Amerika mulai memasuki Korea
Selatan, seperti budaya pop – film, musik, dan fashion - termasuk dalam
bidang pendidikan dan ide-ide tentang sosial dan politik. Buku-buku cetak Korea
mengajarkan tentang prinsip-prinsip tentang hak asasi dan demokrasi yang
menempatkan Amerika Serikat sebagai teladan. Ribuan pelajar Korea yang belajar
di Amerika Serikat juga kembali dengan impresi terhadap nilai-nilai dan budaya
Amerika. Amerika Serikat juga mensponsori program-program pelatihan untuk
birokrat, membiayai publikasi seperti Sasanggye, jurnal yang berpengaruh
terhadap pemikiran sosial dan politik di Korea Selatan. Amerika Serikat juga
memiliki peranan besar dalam pengembangan pendidikan di Korea Selatan dengan
memberi pelatihan kepada Kementrian Pendidikan, memasukkan tentang nilai-nilai
politik Amerika Serikat dalam program kurikulum dan pelatihan guru. Ketiga,
berkembangnya agama Kristen di Korea Selatan yang mengajarkan pluralisme sosial
dan menyediakan basis institusi untuk oposisi politik. Misi Kristen merupakan
hal penting dalam penyebaran ide-ide baru dan orang-orang Kristen aktif dalam
gerakan nasionalis pra-1945.
Dari penjabaran diatas dapat
disimpulkan bahwa kemajuan Korea Selatan tidak terlepas dari nilai-nilai
Konfusianisme yang dianutnya. Korea Selatan juga menjadi negara yang paling
konfusian daripada negara-negara Asia timur lainnya karena adanya asimilasi
ajaran Protestan dan nilai-nilai kapitalisme yang membawa kemajuan Korea
Selatan. Selain kemajuan ekonomi, Korea Selatan juga sukses dalam memajukan
demokrasi di negaranya. Pada tahun 1987 terjadi “Seoul Spring”, yakni transisi
demokrasi dari pemerintahan yang otoriter dan didominasi militer menjadi
pemerintahan yang lebih terbuka dan demokratis. Hal ini membuktikan bahwa
perbaikan dan progres yang signifikan Korea Selatan di bidang ekonomi, sosial,
dan politik membawa pada kemajuan Korea Selatan seperti yang telihat dewasa
ini.
Selain itu baru – baru ini pemerintah
Korea Selatan sedang menggalakkan diplomasi kebudayaan (Hallyu).
Diplomasi
Kebudayaan Pemerintah Korea Selatan merupakan
soft power pemerintah Korea Selatan
yang diimplementasikan melalui
pengenalan dan pemahaman seni budaya Korea Selatan. Pemerintah Korea membentuk KOFIC sebagai
lembaga pemerintah yang khusus menangani masalah penyebaran budaya Korea dan
menjalin kerjasama dengan perusahaan swasta untuk mendukung proses serta
strategi penyeberan hallyu. Produk Korea
berhasil mengemas nilai – nilai Asia yang dipasarkan dengan gaya modern. pola
ini mengacu pada cerita – cerita yang dikemas bernuansa kehidupan orang Asia,
namun pemasarannya memakai cara pemasaran Internasional yang mengedepankan
penjualan nama seorang bintang atau style. Keberhasilan Korea dalam menjual
produk budayanya tidak lepas dari etos kerja orang Korea itu sendiri. Banyak
penyanyi maupun bintang idola Korea yang rela untuk melakukan jumpa fans
dibeberapa negara Asia walaupun honornya kecil dibanding dengan apabila
mereka melakukan di negara sendiri.
Pemerintah
Korea Selatan juga mencanangkan tahun
wisata Korea yang mengedepankan program-program yang menjual negara Korea
terutama paket – paket wisata secara emosional bisa menarik wisatawan untuk
berkunjung ke negara Korea. Beberapa diantaranya adalah merebaknya paket-paket
wisata winter sonata dan endless love.
Paket ini sengaja dirancang untuk dipasarkan kepada wisatan asing untuk
mengunjungi tempat pengambilan gambar di lokasi shooting film-film Korea termasuk mengunjungi rumah
idolanya. Karena memiliki kecanggihan
teknologi, Korea Selatan lebih mudah
melakukan penyebarluasan budayanya dengan teknologi canggih seperti hand phone, I Phone, media internet dan
sebagainya sebagai bentuk soft diplomacy. Penyebaran K-Pop juga tidak lepas dari media komunikasi dan
informasi dengan menggunakan youtube,
facebook, twitter menjadi peluang penyebaran K-Pop di Dunia Internasional. Korea Selatan
menggunakan artis K-Pop sebagai ikon dalam pelaksanaan soft diplomacy di
Indonesia, dengan menampilkan fashion serta gaya yang menarik sangat membuat
masyarakat Indonesia terpikat dan meninggalkan kesan yang positif. K-Pop
cenderung menampilkan gaya manggung yang visual, bernyanyi sambil menari, hal
ini sangat memberi warna yang berbeda dalam industri musik Indonesia.
Seperti yang telah kita pelajari tadi Korea selatan merupakan Negara
dengan mengandalkan soft power. Jadi begitulah bukti bahwa Korea Selatan juga
merupakan Negara super power terutama dalam bidang budaya.
Terima Kasih Sudah Berkunjung
Sumber :
Kekuatan Nasional, Senjata dalam Hubungan Internasional diposting
oleh helmi-akbar-fisip13 pada 11 October 2013
http://helmi-akbar-fisip13.web.unair.ac.id
Dinamika
Korea Selatan: Ekonomi, Sosial, dan Politik Oleh : Andraina Ary Fericandra / 071211232002 http://andraina_af-fisip12.web.unair.ac.id



Mengenai diplomasi kebudayaan Korea, seperti yang kita tahu drama Korea sangat berperan dalam hal ini, apalagi gempuran Hallyu. Nah, apakah ada negara yang merasa bahwa drama Korea adalah sebuah ancaman bagi negara tersebut? Kalau ada, apa alasannya? Terimakasih ^^v
BalasHapusTerima kasih atas pertanyaan nya kak. Untuk jawaban atas pertanyaan tersebut belum saya temukan adanya suatu negara yang menganggap drama Korea sebagai ancaman. Apabila itu ada tolong di share untuk kita. Terima kasih
HapusTerimakasih post an ini sangat membantu buat saya, saya jadi tahu lebih banyak tentang perkembangan negara korea selatan
BalasHapusnegara yang sangat maju dalam perekonomian , kebudayaan serta diplomasi yang luar biasa
BalasHapusterimakasih untuk informasinya ..jadi tahu perkembangan negara korea selatan
Terima kasih atas kunjungan nya. Kalo ada kritik maupun saran atau bahkan pertanyaan silahkan komen
BalasHapusthe one i like from South korea are the dance :D :)
BalasHapustapi kemajuannya di sektor ekonomi memang luar biasa seperti Jepang dan Cina.
nah berarti ragam diplomai apa ya yang dipake sama negaranya oppa2 ganteng ini? asli jd makin pengen kesana :")
BalasHapusterimakasih yaaa infonyaaaa :D
Terima kasih untuk pertanyaan nya. Seperti yang sudah anda baca diatas, bahwa Korea Selatan Lebih banyak menggunakan diplomasi kebudayaan
Hapustop rekomen dah blog agan ini
BalasHapusterima kasih gan
#cendolgan